edopilpay
Satukan Hati dan Fikiran untuk mengenal jati Diri
PSHT 1922
(Move to ...)
Masedo mengucapkan banyak terima kasih telah sudi sekiranya membuka Blogs Berger edopilpay.
▼
Monday, 9 September 2013
Magetan telogo Sarangan
›
SARANGAN MAGETAN
Sunday, 8 September 2013
Pandudewanata mempunyai lima orang putra yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kelima putra raja Pandu ini disebut Pandawa, artinya keturunan atau anak Pandu. Raja Pandu berharap agar Bima di kemudian hari menjadi negarawan yang baik untuk membantu Yudhistira, yang akan menggantikan raja Pandu sebagai raja Ngastina. Harapan Pandu tersebut meleset, sebab Bima tidak mempunyai bakat sebagai negarawan. Bima tidak berbakat sebagai negarawan karena sifatnya sebagai pendiam yang tidak memungkinkannya menjadi negarawan yang baik. Lagi pula Bima berbicara tidak mengingat tempat dan suasana. Bima memiliki sifat pendian dan mandiri, artinya segala kesukaran dan bahaya yang dihadapi sendiri. Bima tidak mau menggangu atau mengurus kepentingan orang lain, kecuali kalau diminta untuk menolong. Bima mempunyai kemauan kuat dan pendirian tegas. Keberanian Bima luar biasa, dan jalannya sangat kencang, sampai orang menggambarkan Bima berjalan bagaikan kilat diiringi angin topan. Sifat Bima yang lain adalah jujur dan gurususrusa, artinya sangat patuh dan hormat pada guru. Hal itu disebut juga sembah guru dan termasuk salah satu dari lima sembah, yang diketahui Bima dari kakeknya Abiyasa. Lima sembah tersebut antara lain sembah kepada Sang Kholiq, raja, kedua orang tua, guru, dan diri pribadi atau harga diri. Berdasarkan pengetahuan tersebut, Bima teramat taat kepada gurunya (Resi Durna), apapun yang diperintahkan diterima dengan penuh hormat dan keyakinan tinggi akan kebenarannya, serta dilakukan dengan tulus hati tanpa berprasangka buruk (Adikara, 1984). Kebanyakan mistikus Jawa menyebut cerita Dewa Ruci merupakan wujud lakon mistik yang paling dalam makna ceritanya di pertunjukkan wayang. Cerita Dewa Ruci ditulis dalam bahasa Kawi (Jawa Kuna) oleh Empu Widjajaka di Mamenang (Seno Sastroamidjojo, 1967). Jalan ceritera lakon Dewa Ruci dan makna-makna yang terkandung di dalamnya, yakni: 1. Permusyawarahan di Astina. Isinya Prabu Duryudana beserta bawahannya sedang membicarakan akan datangnya perang Bharatayudha. Pihak Kurawa khawatir terhadap kekuatan pihak Pandawa, apalagi ada Raden Bima yang dianggap sebagai kekuatan inti dari Pandawa. Yang dibicarakan adalah cara memusnahkan Bima dari muka bumi tanpa mempergunakan kekerasan. Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa yang bisa membunuh Bima dengan tipu muslihat adalah Resi Durna. Resi Durna adalah Guru (yang luhur) dari Raden Bima, dan ia sangat taat terhadap gurunya. Pada suatu saat, Bima mendapat perintah dari Resi Durna untuk mencari air hidup. Beliau berkata, “ Barang siapa memiliki "air hidup", maka akan mencapai tingkat hidup yang sempurna dan suci, serta "ilmu kebebasan jiwa" akan menjadi miliknya. Dalam lakon ini Resi Durna dimaknai sebagai lambang angan-angan atau budi yang menggerakkan perasaan “aku” tokoh Bima. 2. Untuk memperoleh air hidup ini tidak mudah, karena terletak ditempat yang berbahaya yakni Gunung Reksa Muka. Belum pernah ada orang keluar dengan selamat dari rimba gunung tersebut, meskipun demikian Bima bertekad keras berangkat dan tidak menghiraukan ucapan saudara-saudaranya, yang bertujuan menghalangi langkah Bima. Makna “menghalang” ialah sebagai perlambang badan wadag dan berbagai nafsu, berfungsi mengimbangi suatu hasrat, supaya selalu awas dan waspada atas kegiatan atau pikiran ke-akuan yang mampu menjerumuskan ke hal-hal buruk. Sampai ditujuan, Bima dihadang Raksasa Rukmuka dan Rukmakala, terjadi peperangan dahsyat. Perang tersebut melambangkan tekad menggali akal budi, tepatnya hasrat melawan angan-angan yang tidak senonoh, dan mengendalikan hawa nafsu buruk. Akhirnya Bima menang, Rukmuka dan Rukmakala mati. Ternyata kedua raksasa itu adalah penjelmaan dari Batara Indra dan Batara Bayu yang terkena kutuk oleh Batara Guru. Sebagai tanda terima kasih, Batara Indra dan Batara Bayu memberi hadiah berupa Sabuk Bara Tjinde Wilis, yang melambangkan adanya kebulatan lahir dan batin Bima dalam melaksanakan tekad. Ia juga diberitahu bahwa air kehidupan tidak ada di Gunung Reksa Muka. 3. Bima kembali ke Astina dan menemui Durna. Ia menceritakan bahwa air hidup tidak ada di Gunung Reksa Muka, kemudian Durna berkata, “Letak „air hidup. ada di Gua Sigrangga tengah Hutan Palasara”. 4. Bima pergi ke Gua Sigrangga. Ia dihadang oleh marabahaya berupa ular naga besar di tempat itu, terjadi pertarungan antara Bima dan ular naga. Naga kalah dan berubah menjadi Dewi Maheswari. Sang Dewi menjadi naga juga karena kutukan Batara Guru. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, sang Dewi memberitahu bahwa „air hidup. tidak terdapat di gua itu. Bima merenung, kembali memantapkan niat dan bertanya kepada Durna. Durna menjawab, “Seorang guru berhak menguji muridnya paling sedikit dua kali. Pertama diuji ketulusannya, kedua diuji kesetiaannya, dan ketiga mengenai ketetapan hidupnya”. Ketiga kali Durna memberi Bima petunjuk untuk pergi ke Laut Selatan. 5. Ketika hendak berangkat ke Laut Selatan, Bima kembali dihalang-halangi saudara-saudaranya. Ia tidak peduli dan meninggalkan saudara-saudaranya tersebut. Adegan ini melambangkan tindakan membersihkan diri, baik berhubungan dengan yang disukainya maupun yang tidak. 6. Setelah sampai di Laut Selatan. Bima ternyata ditunggu oleh empat orang saudara seperguruannya (sedulur tunggal bayu) yang hendak menghalang-halangi niatnya, karena dorongan rasa kasih sayang pada Bima. Filosofinya ialah sang Bima (merupakan lambang tiap manusia) dalam usaha mencari „air hidup. atau kesucian batin, selalu dilindungi oleh keempat saudara sekekuatan (sedulur papat lima pancer). Nasehat-nasehat dari saudara-saudara tunggal bayu juga tidak dihiraukan. Peristiwa ini mengandung arti bahwa hawa nafsu tidak dapat dikendalikan. Ini dimaknai sebagai perjuangan manusia melepaskan diri dari cengkeraman hawa nafsu atau sifat murka untuk bertemu dengan Tuhan, jika dikaitkan dengan agama Islam, maknanya sama dengan mengambil air wudlu sebelum melaksanakan sembahyang (menghadap Tuhan). 7. Maksud hati Bima ingin segera menemukan „air hidup., tetapi ia dihadang oleh ular besar yang bernama Nembur Nawa. Naga ini melambangkan bahaya besar yang mengancam kehidupan (semua orang). Bahaya tersebut menimbulkan rasa takut, khawatir akan mati dan lain-lain, bagi orang-orang yang tidak bertauhid atau berhasrat teguh. Lain halnya dengan Bima, ia berani melawan naga tersebut, meskipun dengan susah payah mengeluarkan segenap kekuatan. Akhirnya naga terbunuh dengan kuku pancanakanya. Peristiwa di atas melambangkan kemenangan manusia dalam mengalahkan hawa nafsu sebagai musuh besar dalam kehidupan, dengan menyatukan kelima kekuatan yang ada pada dirinya sendiri (Kuku Pancanaka berasal dari kata panca berarti lima dan naka berarti kekuatan. Jadi makna dari Kuku Pancanaka adalah lima kekuatan yang disatukan). 8. Setelah peristiwa peperangan tersebut Bima kehabisan tenaga. Akhirnya ia pingsan diombang-ambing ombak samudera. Dewa Ruci melihatnya dan merasa kasihan kepada Bima. Akhirnya Dewa Ruci mendekati dan menolong Bima dengan menampakkan dirinya sebagai anak kerdil atau bocah bajang, yang menyerupai Bima di waktu kecil. Peristiwa ini bermakna seorang bayi pada umumnya masih suci murni pada waktu lahir. Pada adegan 1 sampai dengan 8 melambangkan roh (ke-akuan) Bima telah bertemu dengan sang Marbudyengrat (Tuhan Yang Maha Esa). Setelah Bima mengalami penderitaan yang panjang karena dia melakukan mesubrata dengan mematahkan (meper) panca inderanya untuk tetap tetep, aneng, dan eling. Setelah bertemu dengan Dewa Ruci, Bima mendapatkan banyak wejangan tentang hidup, yang terurai dalam percakapan berikut ini: Bima : “Kenapa Dewa Ruci bisa hidup senang di tempat sunyi,sepi, dan jauh dari keramaian ?” Dewa Ruci : “Ketahuilah anakku Bima. Pada hakikatnya rasa mensyukuri senang dapat memperbesar rasa terima kasih dan keteguhanku. Suatu keramaian atau pesta ria aku tidak merasa senang. Kekurangan dan kemiskinan bagiku tidak berarti sebagai penderitaan atau kesedihan. Cacat aku anggap tidak merugikan diriku. Makananku sangat sederhana.” „Aku. dikiaskan dengan kepribadian Bima. Bima : “Apakah paugeraning ngagesang atau hakikat hidup yang sejati itu?” Dewa Ruci : “Hai anakku, badan wadag atau tubuh manusia itu mengandung kelima jenis hawa nafsu yang menyatu disebut Panca Buta (sedulur papat lima pancer). Kelima hawa nafsu tersebut merupakan hadiah hidup. Tegasnya hidup tanpa Panca Buta itu tidak sempurna, jika hadiah sepenting itu tidak dipelihara sebaik-baiknya dan dikendalikan secara wajar, kemungkinan besar hawa nafsu akan keluar dari kebenaran atau menyeleweng. Tiap manusia wajib mengawasi dengan cermat gerak-gerik hawa nafsu pribadi, serta membimbingnya ke arah keselarasan di segala bidang. Usaha tersebut apabila belum berhasil atau meluap menjadi angkara murka, maka orang bersangkutan akan mudah terjerumus dalam jurang dosa yang beraneka corak. Dosa itu seharusnya dibuang sejauh mungkin. Adapun cara mengesampingkannya adalah menghindari sifat angkara murka. Hal itu hanya dapat terlaksana dengan jalan melatih diri terus-menerus, dengan tujuan menentramkan badan dan pikiran secara wajar (keadaan tata, titi, tentrem, dan tatas) serta memurnikan kepribadian. Ketahuilah anakku, segala sesuatu di seluruh alam, hakikatnya hanya bayangan belaka, tidak abadi. Oleh sebab itu, keliru apabila tujuan dan kegiatan orang hanya diperuntukkan mengejar keduniawian saja, karena tanpa batas. Lain halnya dengan Panjitamala yang berasal dari sang Adnjana Wasesa disebut pula sang Cipta Nirmala atau Kawruh Sejati. Pengetahuan atau kesadaran yang sejati timbul dari kesucian, kemurnian serta kejernihan batin yang mutlak. Hai anakku, sehubungan dengan hal-hal tersebut berdaya upayalah sekuat tenaga, ke arah tercapainya keadaan murni sejati laksana „air hidup (Tirta Amarta). Jangan pisah sekejap mata dari pembersihan dirimu dengan „air hidup. itu. Hanya dengan perbuatan demikian, yang dapat menghindarkan dan membersihkan jasadmu dari berbagai marabahaya beserta penderitaannya.” 9. Setelah jatining pitedah (pokok petuah) tadi meresap ke dalam sanubari sang Bima. Ia dipersilakan memasuki lubang telinga kiri sang Dewa Ruci terus ke dalam tubuhnya, untuk mendapat wejangan lebih lanjut. Peristiwa ini melambangkan jumbuhing atau manunggaling kawula Gusti, setelah Bima mencapai kesempurnaan hidup, karena sudah tahu tentang hakikat hidup. Orang yang seperti ini, berarti telah mencapai keadaan unio mystica dan sadar akan arti sangkan paraning dumadi. Segala ajaran Dewa Ruci dalam hubungan ini melambangkan mustikaning budhi (sumber segala budi pekerti), telah menjadi darah dagingnya. Peristiwa memasuki tubuh sang Dewa Ruci, bermakna bahwa watak sang Bima telah mengalami perubahan penting menuju kebaikan. 10.Setelah mendapat wejangan dalam tubuh Dewa Ruci, tiba-tiba Bima berada di pantai tanpa diketahui caranya. Sejak peristiwa tersebut sang Bima tidak suka mengurai rambut lagi, melainkan mengenakan sanggul yang dinamakan Gelung Minangkoro Cinandhi Renggo endhek ngarep dhuwur mburi. Gelung itu melambangkan watak sopan. Tepatnya, ia tidak mau memamerkan kepandaiannya tersebut, melainkan menyimpan dalam diri (ginelung wonten) kratoning budhi (hati sanubari), meskipun memiliki ilmu pengetahuan tinggi, kecerdasan, budi pekerti yang luhur). Atas dasar itu, ia bertindak bijaksana, adil, dapat mengatasi segala masalah dengan selaras, serta senantiasa memusatkan kepribadian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
›
Pandudewanata mempunyai lima orang putra yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kelima putra raja Pandu ini disebut Pandawa, artinya keturunan atau anak Pandu. Raja Pandu berharap agar Bima di kemudian hari menjadi negarawan yang baik untuk membantu Yudhistira, yang akan menggantikan raja Pandu sebagai raja Ngastina. Harapan Pandu tersebut meleset, sebab Bima tidak mempunyai bakat sebagai negarawan. Bima tidak berbakat sebagai negarawan karena sifatnya sebagai pendiam yang tidak memungkinkannya menjadi negarawan yang baik. Lagi pula Bima berbicara tidak mengingat tempat dan suasana. Bima memiliki sifat pendian dan mandiri, artinya segala kesukaran dan bahaya yang dihadapi sendiri. Bima tidak mau menggangu atau mengurus kepentingan orang lain, kecuali kalau diminta untuk menolong. Bima mempunyai kemauan kuat dan pendirian tegas. Keberanian Bima luar biasa, dan jalannya sangat kencang, sampai orang menggambarkan Bima berjalan bagaikan kilat diiringi angin topan. Sifat Bima yang lain adalah jujur dan gurususrusa, artinya sangat patuh dan hormat pada guru. Hal itu disebut juga sembah guru dan termasuk salah satu dari lima sembah, yang diketahui Bima dari kakeknya Abiyasa. Lima sembah tersebut antara lain sembah kepada Sang Kholiq, raja, kedua orang tua, guru, dan diri pribadi atau harga diri. Berdasarkan pengetahuan tersebut, Bima teramat taat kepada gurunya (Resi Durna), apapun yang diperintahkan diterima dengan penuh hormat dan keyakinan tinggi akan kebenarannya, serta dilakukan dengan tulus hati tanpa berprasangka buruk (Adikara, 1984). Kebanyakan mistikus Jawa menyebut cerita Dewa Ruci merupakan wujud lakon mistik yang paling dalam makna ceritanya di pertunjukkan wayang. Cerita Dewa Ruci ditulis dalam bahasa Kawi (Jawa Kuna) oleh Empu Widjajaka di Mamenang (Seno Sastroamidjojo, 1967). Jalan ceritera lakon Dewa Ruci dan makna-makna yang terkandung di dalamnya, yakni: 1. Permusyawarahan di Astina. Isinya Prabu Duryudana beserta bawahannya sedang membicarakan akan datangnya perang Bharatayudha. Pihak Kurawa khawatir terhadap kekuatan pihak Pandawa, apalagi ada Raden Bima yang dianggap sebagai kekuatan inti dari Pandawa. Yang dibicarakan adalah cara memusnahkan Bima dari muka bumi tanpa mempergunakan kekerasan. Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa yang bisa membunuh Bima dengan tipu muslihat adalah Resi Durna. Resi Durna adalah Guru (yang luhur) dari Raden Bima, dan ia sangat taat terhadap gurunya. Pada suatu saat, Bima mendapat perintah dari Resi Durna untuk mencari air hidup. Beliau berkata, “ Barang siapa memiliki "air hidup", maka akan mencapai tingkat hidup yang sempurna dan suci, serta "ilmu kebebasan jiwa" akan menjadi miliknya. Dalam lakon ini Resi Durna dimaknai sebagai lambang angan-angan atau budi yang menggerakkan perasaan “aku” tokoh Bima. 2. Untuk memperoleh air hidup ini tidak mudah, karena terletak ditempat yang berbahaya yakni Gunung Reksa Muka. Belum pernah ada orang keluar dengan selamat dari rimba gunung tersebut, meskipun demikian Bima bertekad keras berangkat dan tidak menghiraukan ucapan saudara-saudaranya, yang bertujuan menghalangi langkah Bima. Makna “menghalang” ialah sebagai perlambang badan wadag dan berbagai nafsu, berfungsi mengimbangi suatu hasrat, supaya selalu awas dan waspada atas kegiatan atau pikiran ke-akuan yang mampu menjerumuskan ke hal-hal buruk. Sampai ditujuan, Bima dihadang Raksasa Rukmuka dan Rukmakala, terjadi peperangan dahsyat. Perang tersebut melambangkan tekad menggali akal budi, tepatnya hasrat melawan angan-angan yang tidak senonoh, dan mengendalikan hawa nafsu buruk. Akhirnya Bima menang, Rukmuka dan Rukmakala mati. Ternyata kedua raksasa itu adalah penjelmaan dari Batara Indra dan Batara Bayu yang terkena kutuk oleh Batara Guru. Sebagai tanda terima kasih, Batara Indra dan Batara Bayu memberi hadiah berupa Sabuk Bara Tjinde Wilis, yang melambangkan adanya kebulatan lahir dan batin Bima dalam melaksanakan tekad. Ia juga diberitahu bahwa air kehidupan tidak ada di Gunung Reksa Muka. 3. Bima kembali ke Astina dan menemui Durna. Ia menceritakan bahwa air hidup tidak ada di Gunung Reksa Muka, kemudian Durna berkata, “Letak „air hidup. ada di Gua Sigrangga tengah Hutan Palasara”. 4. Bima pergi ke Gua Sigrangga. Ia dihadang oleh marabahaya berupa ular naga besar di tempat itu, terjadi pertarungan antara Bima dan ular naga. Naga kalah dan berubah menjadi Dewi Maheswari. Sang Dewi menjadi naga juga karena kutukan Batara Guru. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, sang Dewi memberitahu bahwa „air hidup. tidak terdapat di gua itu. Bima merenung, kembali memantapkan niat dan bertanya kepada Durna. Durna menjawab, “Seorang guru berhak menguji muridnya paling sedikit dua kali. Pertama diuji ketulusannya, kedua diuji kesetiaannya, dan ketiga mengenai ketetapan hidupnya”. Ketiga kali Durna memberi Bima petunjuk untuk pergi ke Laut Selatan. 5. Ketika hendak berangkat ke Laut Selatan, Bima kembali dihalang-halangi saudara-saudaranya. Ia tidak peduli dan meninggalkan saudara-saudaranya tersebut. Adegan ini melambangkan tindakan membersihkan diri, baik berhubungan dengan yang disukainya maupun yang tidak. 6. Setelah sampai di Laut Selatan. Bima ternyata ditunggu oleh empat orang saudara seperguruannya (sedulur tunggal bayu) yang hendak menghalang-halangi niatnya, karena dorongan rasa kasih sayang pada Bima. Filosofinya ialah sang Bima (merupakan lambang tiap manusia) dalam usaha mencari „air hidup. atau kesucian batin, selalu dilindungi oleh keempat saudara sekekuatan (sedulur papat lima pancer). Nasehat-nasehat dari saudara-saudara tunggal bayu juga tidak dihiraukan. Peristiwa ini mengandung arti bahwa hawa nafsu tidak dapat dikendalikan. Ini dimaknai sebagai perjuangan manusia melepaskan diri dari cengkeraman hawa nafsu atau sifat murka untuk bertemu dengan Tuhan, jika dikaitkan dengan agama Islam, maknanya sama dengan mengambil air wudlu sebelum melaksanakan sembahyang (menghadap Tuhan). 7. Maksud hati Bima ingin segera menemukan „air hidup., tetapi ia dihadang oleh ular besar yang bernama Nembur Nawa. Naga ini melambangkan bahaya besar yang mengancam kehidupan (semua orang). Bahaya tersebut menimbulkan rasa takut, khawatir akan mati dan lain-lain, bagi orang-orang yang tidak bertauhid atau berhasrat teguh. Lain halnya dengan Bima, ia berani melawan naga tersebut, meskipun dengan susah payah mengeluarkan segenap kekuatan. Akhirnya naga terbunuh dengan kuku pancanakanya. Peristiwa di atas melambangkan kemenangan manusia dalam mengalahkan hawa nafsu sebagai musuh besar dalam kehidupan, dengan menyatukan kelima kekuatan yang ada pada dirinya sendiri (Kuku Pancanaka berasal dari kata panca berarti lima dan naka berarti kekuatan. Jadi makna dari Kuku Pancanaka adalah lima kekuatan yang disatukan). 8. Setelah peristiwa peperangan tersebut Bima kehabisan tenaga. Akhirnya ia pingsan diombang-ambing ombak samudera. Dewa Ruci melihatnya dan merasa kasihan kepada Bima. Akhirnya Dewa Ruci mendekati dan menolong Bima dengan menampakkan dirinya sebagai anak kerdil atau bocah bajang, yang menyerupai Bima di waktu kecil. Peristiwa ini bermakna seorang bayi pada umumnya masih suci murni pada waktu lahir. Pada adegan 1 sampai dengan 8 melambangkan roh (ke-akuan) Bima telah bertemu dengan sang Marbudyengrat (Tuhan Yang Maha Esa). Setelah Bima mengalami penderitaan yang panjang karena dia melakukan mesubrata dengan mematahkan (meper) panca inderanya untuk tetap tetep, aneng, dan eling. Setelah bertemu dengan Dewa Ruci, Bima mendapatkan banyak wejangan tentang hidup, yang terurai dalam percakapan berikut ini: Bima : “Kenapa Dewa Ruci bisa hidup senang di tempat sunyi,sepi, dan jauh dari keramaian ?” Dewa Ruci : “Ketahuilah anakku Bima. Pada hakikatnya rasa mensyukuri senang dapat memperbesar rasa terima kasih dan keteguhanku. Suatu keramaian atau pesta ria aku tidak merasa senang. Kekurangan dan kemiskinan bagiku tidak berarti sebagai penderitaan atau kesedihan. Cacat aku anggap tidak merugikan diriku. Makananku sangat sederhana.” „Aku. dikiaskan dengan kepribadian Bima. Bima : “Apakah paugeraning ngagesang atau hakikat hidup yang sejati itu?” Dewa Ruci : “Hai anakku, badan wadag atau tubuh manusia itu mengandung kelima jenis hawa nafsu yang menyatu disebut Panca Buta (sedulur papat lima pancer). Kelima hawa nafsu tersebut merupakan hadiah hidup. Tegasnya hidup tanpa Panca Buta itu tidak sempurna, jika hadiah sepenting itu tidak dipelihara sebaik-baiknya dan dikendalikan secara wajar, kemungkinan besar hawa nafsu akan keluar dari kebenaran atau menyeleweng. Tiap manusia wajib mengawasi dengan cermat gerak-gerik hawa nafsu pribadi, serta membimbingnya ke arah keselarasan di segala bidang. Usaha tersebut apabila belum berhasil atau meluap menjadi angkara murka, maka orang bersangkutan akan mudah terjerumus dalam jurang dosa yang beraneka corak. Dosa itu seharusnya dibuang sejauh mungkin. Adapun cara mengesampingkannya adalah menghindari sifat angkara murka. Hal itu hanya dapat terlaksana dengan jalan melatih diri terus-menerus, dengan tujuan menentramkan badan dan pikiran secara wajar (keadaan tata, titi, tentrem, dan tatas) serta memurnikan kepribadian. Ketahuilah anakku, segala sesuatu di seluruh alam, hakikatnya hanya bayangan belaka, tidak abadi. Oleh sebab itu, keliru apabila tujuan dan kegiatan orang hanya diperuntukkan mengejar keduniawian saja, karena tanpa batas. Lain halnya dengan Panjitamala yang berasal dari sang Adnjana Wasesa disebut pula sang Cipta Nirmala atau Kawruh Sejati. Pengetahuan atau kesadaran yang sejati timbul dari kesucian, kemurnian serta kejernihan batin yang mutlak. Hai anakku, sehubungan dengan hal-hal tersebut berdaya upayalah sekuat tenaga, ke arah tercapainya keadaan murni sejati laksana „air hidup (Tirta Amarta). Jangan pisah sekejap mata dari pembersihan dirimu dengan „air hidup. itu. Hanya dengan perbuatan demikian, yang dapat menghindarkan dan membersihkan jasadmu dari berbagai marabahaya beserta penderitaannya.” 9. Setelah jatining pitedah (pokok petuah) tadi meresap ke dalam sanubari sang Bima. Ia dipersilakan memasuki lubang telinga kiri sang Dewa Ruci terus ke dalam tubuhnya, untuk mendapat wejangan lebih lanjut. Peristiwa ini melambangkan jumbuhing atau manunggaling kawula Gusti, setelah Bima mencapai kesempurnaan hidup, karena sudah tahu tentang hakikat hidup. Orang yang seperti ini, berarti telah mencapai keadaan unio mystica dan sadar akan arti sangkan paraning dumadi. Segala ajaran Dewa Ruci dalam hubungan ini melambangkan mustikaning budhi (sumber segala budi pekerti), telah menjadi darah dagingnya. Peristiwa memasuki tubuh sang Dewa Ruci, bermakna bahwa watak sang Bima telah mengalami perubahan penting menuju kebaikan. 10.Setelah mendapat wejangan dalam tubuh Dewa Ruci, tiba-tiba Bima berada di pantai tanpa diketahui caranya. Sejak peristiwa tersebut sang Bima tidak suka mengurai rambut lagi, melainkan mengenakan sanggul yang dinamakan Gelung Minangkoro Cinandhi Renggo endhek ngarep dhuwur mburi. Gelung itu melambangkan watak sopan. Tepatnya, ia tidak mau memamerkan kepandaiannya tersebut, melainkan menyimpan dalam diri (ginelung wonten) kratoning budhi (hati sanubari), meskipun memiliki ilmu pengetahuan tinggi, kecerdasan, budi pekerti yang luhur). Atas dasar itu, ia bertindak bijaksana, adil, dapat mengatasi segala masalah dengan selaras, serta senantiasa memusatkan kepribadian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
›
Sunday, 11 August 2013
›
Friday, 9 August 2013
Masedo ucakan Melati semerbak harum mewangi Sebagai penghias di hari fitri SMS ini hadir pengganti diri Ulurkan tangan silaturahmi. Selamat Idul Fitri 1434H. Gadis menyulam diatas kain seindah bunga dalam jambangan. Walo hanya sms yg saya kirim serasa kita berjabat tangan. MinalAidzinWalFaidzin. Mhn maaf lahir&batin Masedo Sekeluarga.
›
“Nadyan netra tansasmita, lathi tanwicara, hamung aksara tinata minangka duta. Bebeging manah nyuwun gunging pangapurandika lan sugeng riyadi.” “Gilir gumanti padhang tetrawangan ing wayah ratri. Kawula Masedo dalah Keluargo ngaturaken sugeng riaden sugeng karaharjan, rena ing penggalih kawula nyuwun agunging samudra pangaksama lahir trusing batos, mugiya tansah winengku ing karahayon lan widada ing sambikala.” “Rinengga suminaring surya dinten fitri cinandra resik ing wardaya, katur sugeng manghayubagya Idul Fitri nyuwun angunging samudra pangaksami, ing sedaya kalepatan kula Masedo dalah sakluwarga “minal aidinwal faidzin” mugi kita tansah winengku ing karahayon, gesang, lan mugi tansah pikantuk ridho saking Gusti Allah SWT.” Aamiin, “Kanthi linambaran tulus saha andhap asoring manah kula ugi ngaturaken sedaya kalepatan mugi sageda kalebur ing riyadi suci punika. Mugi Gusti Allah paring ijabah.” “Katur dhumateng ngarsanipun Bapak/Ibu/Simbah/Rencang sedoyo,dll, ingkang sepisan kula badhe ngaturaken sungkem pangabekti kula dhumateng Bapak/Ibu/Simbah/Rencang sedayanipun,dll, ingkang kaping kalih kula ngaturaken sugeng riyadi sedaya lepat kula nyuwun pangapunten lan sageta kalebur wonten ing dinten riyadi punika lantaran Bapak/Ibu/Simbah/Rencang sedayanipun,dll. Ingkang saklajengipun kulo ugi nyuwun pangestu mugi-mugi menopo engkang dados panggayuh kulo saged kaleksanan, Cekap atur kulo" Matur Suwun
›
“Nadyan netra tansasmita, lathi tanwicara, hamung aksara tinata minangka duta. Bebeging manah nyuwun gunging pangapurandika lan sugeng riy...
Ing jagade susastra Jawa, Suluk Wragul bisa kagolongake salah sawijine karya kang ngemu piwulang utawa pepeling-pepeling luhur, ing antarane: siji, Sakabehe titah manungsa kudu bisa maca lan ngaca marang pribadine dhewe. Laku mawas dhiri kuwi kang jalari manungsa ora bakal dhemen nyacat sartane goleki cacate wong liya. Kejaba saka iku, manungsa uga ora bakal dhemen ngembe marang wong liya kang uripe sarwa prasaja lan katon samsara. Loro, sadengah titah manungsa tansaha lumaku sadawane margi kajujuran. Apa kang diucapke sartane kang dilakoni kudu trep karo swaraning ati. Kanthi laku mengkono, titah manungsa bakal antuk pepadhang lan pituduh saka Gusti. Adoh saka pepeteng kang jalari urip kejlomprong sajrone juranging kasangsaran. Telu, menawa sadengah titah manungsa kepengin ngawiti laku anyar, tansaha takon marang wong-wong kang wus pana lan buntas kawruhe. Kanthi cara mengkono, laku kang dilakoni ora bakal kesasar samadyaning marga. Nanging, laku kasebut bakal tumekeng panggon lan tujuane. Papat, Ana rong perkara sajroning laku pepujian marang Gusti kang wajib dimangerteni dening sadengah titah manungsa. Laku pepujian bakal dikabulke dening Gusti, menawa manungsa tansah percaya marang anane dzat kang dipuji sajroning sembahyang. Manungsa kudu yakin menawa pepujian kang diucapke lathi iku tulus saka manah suci. Keploking lathi lan ati sajroning laku pepujian iku kang bakal dadi sarana urip bagya mulya ing donya lan alam kelanggengan.
›
بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ. اﻟﺸﻼم ﻋﻠﻴﻜﻢ ورﺣﻤﺔاﻟﻠﻪ وﺑﺮﻛﺎﺗﻪَ Sucineng Ati, Kaserat ing Lati tumomo ning laku, ngaturaken SUGENG RIYADI bilih wonten kalepatan nyuwun agungi samudro pangaksomo.Kulo Masε̲̣̣̣do dalah Keluargo nyuwun gunging pangapunten sedanten kalepaten lahir dumugi ning batos boten langkung ngaturaken sugeng IDUL FITRI,mugi Gusti Allah Ing kang Kuoso paring Ridho lan Rahmatipun dumateng kito sedoyo.Aamiin وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُ
›
WONG PSHT SEJATI Realiti hidup Setia Hatia Terate Latian berat ...
Tuesday, 6 August 2013
Masedo mengucapkan; Melati semerbak harum mewangi Sebagai penghias di hari fitri SMS ini hadir pengganti diri Ulurkan tangan silaturahmi. Selamat Idul Fitri 1434H. Gadis menyulam diatas kain seindah bunga dalam jambangan. Walo hanya sms yg saya kirim serasa kita berjabat tangan. MinalAidzinWalFaidzin. Mhn maaf lahir&batin Masedo Sekeluarga.
›
Masedo mengucapkan; ...
Monday, 5 August 2013
بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ. اﻟﺸﻼم ﻋﻠﻴﻜﻢ ورﺣﻤﺔاﻟﻠﻪ وﺑﺮﻛﺎﺗﻪَ Nandur olo bakal ciloko nandur kebecikn bakale ngunduh kamulyan ora ono jalmo manungso sing uwal soko luput lan doso...... " Taqoballohu minna wa minkum washiyamana washiyamankum " ̊┈̥-̶̯͡♈̷̴MaseD̶̲̥̅̊o ucapkan Selamat hari raya IDUL FITRI 1434H mohon maaf lahir dan batin, وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُ
›
“Kata telah terucap tangan telah tergerak. prasangka telah terungkap Tiada kata, Kecuali Masε̲̣̣̣̥D̶̲̥̅̊o mohon maaf lahir dan batin jalin ukhuwah & kasih sayang raih indahnya kemenangan hakiki Selamat Hari Raya Idul Fitri”” Esok adalah harapan..Sekarang adalah kenyataan..Kemarin adalah kenangan, yang tak luput dari khilaf dan kesalahan..Ketika tangan tak mampu berjabat,Kaki tak dapat melangkah.Hanya hati yang mampu berbisik,, ””Minal Aidin Walfaizin Mohon Maaf Lahir Batin
›
“Kata telah terucap tangan telah tergerak prasangka telah terungkap Tiada kata, Kecuali Masε̲̣̣̣̥D̶̲̥̅̊o Mohon maaf lahir batin jalin u...
Saturday, 13 July 2013
WARISAN SUNAN KALIJAGA DALAM NYANYIAN (Gundul-Gundul Pacul) Ternyata lagu “gundul-2 pacul mempunyai filosofi yang dalam. Lagu Gundul gundul pacul ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia. ‘Gundul’ adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Jadi ‘gundul’ adalah kehormatan tanpa mahkota. ‘Pacul’ adalah cangkul (red, jawa) yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Jadi pacul adalah lambang kawula rendah, kebanyakan petani. ‘Gundul pacul’ artinya adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Orang Jawa mengatakan pacul adalah ‘Papat Kang Ucul’ (4 yg lepas). Kemuliaan seseorang tergantung 4 hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya. 1.Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat. 2.Telinga digunakan untuk mendengar nasehat. 3.Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan. 4.Mulut digunakan untuk berkata adil. Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya. ‘Gembelengan’ artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Arti harafiahnya jika orang yg kepalanya sudah kehilangan 4 indera itu mengakibatkan:GEMBELENGAN (congkak/sombong). NYUNGGI2 WAKUL (menjunjung amanah rakyat/orang banyAk) GEMBELENGAN ( sombong hati), akhirnya WAKUL NGGRIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia2, gak bermanfaat bagi kesejahteraan orang banyak)
›
WARISAN SUNAN KALIJAGA DALAM NYANYIAN ...
Wednesday, 10 October 2012
"CINTA TAK HARUS MEMILIKI". Pernahkah engkau merasakan kesedihan ketika engkau tetap mencintai seseorang.. Meski engkau tahu ia sudah tak sendiri lagi dan cintamu takmungkin berbalas?. Pernahkah engkau merasakan ketika engkau sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang engkau cintai.. Meski engkau tahu ia tetap pergi dan tak kan pernah mempedulikanmu lagi? Pernahkah engkau merasakan hebatnya cinta? Tetap tersenyum ketika terluka. Tetap bahagia walau hati menangis. Tetap tersenyum ketika berpisah. Aku pernah merasakannya..! ! Aku mampu tersenyum meski hatiku terluka.. Karena kuyakin Allah tidak menciptakan dia untukku. Aku pernah menangis ketika bahagia. Karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja. Aku pernah bersedih ketika bersamanya.. Karena ku takut aku akan kehilangan dia suatu saat nanti. Aku juga pernah tersenyum manis ketika berpisah dengannya. Karena sekali lagi, cinta tak harusmemiliki.. Dan aku yakin Allah pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku. Jujur aku tetap bisa mencintainya. Meski ia tak dapat kurengkuh dalam kehidupanku.. Karena cinta memang bukan hanya ada di dalam raga. Akan tetapi bersemayam di dalam jiwa. Semua orang pasti pernah merasakan cinta. Baik dari orang tua. Dari sahabat.Atau pun dari pasangan hidupnya.. Untukmu yang sedang jatuh cinta. Rawatlah cintamu dengan sebaik-baiknya. Karena pada hakekatnya cinta itu sangat indah. Tetaplah berhubungan di jalan-Nya. Jangan jadikan cintamu menjadi fitnah. Tapi jadikanlah barokah.. Untukmu yang terluka karena cinta. Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar. Suatu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit. Bersabar dan berdoalah karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu.. Untukmu yang tidak percaya akan cinta. Bukalah hatimu. Janganlah menutup mata akan keindahan yang ada di dunia.. Karena cinta yang suci akan membuat hidupmu menjadi bahagia. Untukmu yang mendambakancinta. Bersabarlah karena cinta yang indah tidak terjadi dalam waktu sekejap.. Percayalah Allah telahmempersiapkan pasangan terbaikbagimu. Cinta adalah.... Bayangan semu yang berkliaran di hati dan fikiran.
›
"CINTA TAK HARUS MEMILIKI...
Saturday, 6 October 2012
Kasih.............. Di antara hembusan angin dan temaram senja ku bawa bayangmu menuju sepi entah sampai kapan ak bisa terperangkap dalam garis pesonamu, Di sela-sela canda tawamu serta tatapan sayu matamu ada getar yang terasa, hingga batin ini tersiksa pada gejolak rasa yang membara dan saat ini ku beranikan diri tuk bertanya.......... Adakah sama yang ku rasa???
›
Kasih.............. Di antara hembusan angin dan temaram senja ku bawa bayangmu menuju sepi entah sampai kapan ak bisa terper...
‹
Home
View web version